Upaya Sustainability (keberlanjutan) Bisnis Keluarga melalui Knowledge Sharing (Berbagi Ilmu) dari Pemilik ke Penerus

Kemampuan organisasi di bidang ilmu knowledge dan teknologi menjadi salah satu faktor penting yang berkaitan dengan daya saing. Penguasaan knowledge merupakan kunci memenangkan persaingan (Bornemann, Graggober, Hartieb, Hympl, Koronakis, Primus, 2003). Secara kongkrit, penguasaan knowledge dan teknologi memiliki empat komponen penting (Gauthama,1999) yakni perangkat teknis (technoware), perangkat manusia (humanware), perangkat informasi (infoware), dan perangkat organisasi (orgaware). Salahsatu kunci sukses knowledge management adalah knowledge sharing. Knowledge sharing adalah upaya mendorong individu yang ada di dalam organisasi untuk melakukan kegiatan berbagi mengenai apa yang mereka ketahui (Orr dan Persson, 2003). Knowledge sharing terdiri atas dua, yaitu tacit knowledge sharing dan explicit knowledge sharing. Knowledge dapat dipahami sebagai aset individu atau aset organisasi yang bersifat tacit maupun explicit (Hansen dan Avital, 2005). Explicit knowledge secara mudah terdokumentasikan, mudah dimodifikasi dan diartikulasikan serta bersifat objektif, bersifat formal dan sistematis yang mudah untuk dikomunikasikan dan dibagikan (Carrillo, Robinson, Al-Ghassani dan Anumba, 2004). Secara umum explicit knowledge memiliki karakter: (1) mudah diucapkan secara tepat dan resmi; serta (2) mudah disusun, didokumentasikan, dipindahkan, dibagi, dan dikomunikasikan. Tacit knowledge adalah knowledge yang belum terdokumentasikan dan melekat di dalam diri seseorang, tidak mudah diungkapkan dan bersifat subjektif (Nonaka dan Takeuchi, 1995; Nonaka dan Konno, 1998; Akamavi dan Kimble, 2005). Tacit knowledge lebih bersifat personal, dikembangkan melalui pengalaman yang sulit untuk diformulasikan dan dikomunikasikan (Carrillo et al.,2004). Tacit knowledge tidak dinyatakan dalam bentuk tulisan, melainkan sesuatu yang terdapat dalam benak orang-orang yang bekerja di dalam suatu organisasi.

Penelitian bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh tacit dan explicit knowledge sharing terhadap kinerja individu dengan kualitas hubungan dan budaya organisasi sebagai pemoderasi pada family business. Penelitian dilakukan pada pemilik atau pengelola family business di DIY meliputi 4 Kabupaten dan 1 Kotamadya dengan responden penelitian sebanyak 384 pemilik atau pengelola dengan alat analisis MRA. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah penggunaan tacit dan explicit knowledge sharing dalam satu model penelitian, selain itu outcome penelitian yang berupa individual performance. Teori yang digunakan adalah Teori Knowledge Management Nonaka (1991) tentang knowledge sharing. Efektivitas knowledge management tergantung pada kemampuan knowledge sharing.

Budaya organisasi dalam family business sebagai pemoderasi memiliki peran penting dalam meningkatkan pengaruh knowledge sharing pada kinerja individu. Selain itu, kualitas hubungan sebagai variabel pemoderasi akan meningkatkan pengaruh knowledge sharing pada kinerja pemilik atau pengelola dan penerusnya (Liao, Liu dan Loi, 2010). Kualitas hubungan mampu membuat komunikasi yang lebih sering, dukungan serta kepercayaan dan kedekatan emosi (Dulac, Coyle-Shapiro, Henderson dan Wayne, 2008; Graen dan Uhl-bien, 1995).

Temuan penelitian menunjukkan ada pengaruh tacit knowledge sharing pada kinerja individu dengan budaya organisasi sebagai pemoderasi, dan tacit knowledge sharing juga memiliki pengaruh pada kinerja individu dengan kualitas hubungan sebagai moderator. Explicit knowledge sharing mempengaruhi kinerja individu dengan kualitas hubungan sebagai pemoderasi, budaya organisasi juga sebagai pemoderasi pengaruh explicit knowledge sharing dalam kinerja individu. Penelitian menunjukkan perempuan lebih merasakan manfaat knowledge sharing daripada laki-laki sehingga perempuan lebih bersedia melakukan knowledge sharing terutama pada orang yang memiliki kedekatan emosional, seperti anak atau orang yang dipercaya mendukung temuan Marzden (1987); Moore (1990); Pugliesi dan Shook (1998); Irmer, Bordia dan Abusah (2002); Lin (2006). Tingkat pendidikan juga mempengaruhi kecenderungan knowledge sharing seperti temuan Keyes (1988); Ojha (2005); Gumus,2007) semakin rendah tingkat pendidikan seseorang justru cenderung lebih bersedia melakukan knowledge sharing dengan orang lain. Hasil penelitian juga menyatakan bahwa usia seseorang mempengaruhi knowledge sharing mendukung temuan Ba, Stallaert, dan Whinston (2001); Riege (2005); Gumus (2007) dan Keyes (2008).

Secara praktis penelitian ini bagi pemilik atau pengelola family business sebaiknya mempertimbangkan pentingnya faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja ditinjau dari proses knowledge sharing sehingga dapat digunakan bagi pengambilan kebijakan di masa yang akan datang terkait dengan eksistensi dan keberlanjutan family business. Peneliti mendorong pemilik atau pengelola family business melakukan knowledge sharing karena arti penting tacit dan explicit knowledge sharing bagi peningkatan kinerja individu, selain itu didorong budaya organisasi family business yang kondusif serta kualitas hubungan yang akan mendorong pengaruh knowledge sharing pada kinerja individu. Secara jangka panjang knowledge sharing akan menaikkan daya saing family business dengan adanya peningkatan kinerja pemilik atau pengelola dan penerus.

Disertasi Nur Wening

Prasetyo, Agung Slamet. “STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN BISNIS TIKET ONLINE STUDI KASUS TIKET2. COM.” Jurnal Kajian Bisnis 25.1 (2017): 74-87.